27 Agustus 2008

Aan Rohanah: Dahulukan Kepentingan Ideologis Ketimbang Bisnis

SUMBER : www.kabarindonesia.com
07-Jul-2008, 15:58:43 WIB

Oleh : Adi Supriadi

KabarIndonesia - Bangkitnya industri perfilman Indonesia beberapa tahun belakangan ini, setelah lama "mati suri" tentu disambut gembira oleh para insan film. Namun sayangnya perkembangan yang cukup pesat di industri perfilman Indonesia, ternyata menghadirkan nuansa pornografi yang cukup kental.


Beberapa film yang beredar di kalangan remaja seperti "Buruan Cium Gue" yang ditarik peredarannya dan film teranyar "Virgin" jelas-jelas menghadirkan nuansa pornografi yang meresahkan banyak orang tua.

Mengetahui hal ini, anggota DPR RI dari Fraksi PKS yang kini tergabung dalam Komisi X, Aan Rohanah meminta para praktisi film untuk mengedapankan kepentingan ideologis dibandingkan dengan kepentingan bisnis. Karena menurutnya film mencerminkan jatidiri suatu bangsa. "Masyarakat luar akan menilai posisitif atau negatif suatu bangsa dengan menonton film bangsa tersebut".

Kepada Situs Jaksel, Aan mengatakan bahwa untuk menangani masalah pornografi yang mewarnai perfilman Indonesia, dirinya bersama para Aleg di komisi X, telah membahasnya di forum FFI (Festifal Film Indonesia) dan juga dengan Menteri Pariwisata dan Budaya. "Mereka yang paling bertanggung jawab terhadap kebijakan-kebijakan yang bisa membuat masyarakat jadi baik atau buruk" Cetus Aan.

Wanita yang kerapkali mengisi ceramah di berbagai forum ini meminta para tokoh yang berada di dalam Badan Sensor Film untuk berkontribusi dalam perbaikan moral bangsa dengan tidak meloloskan film-film yang jelas berbau pornografi. Terlebih terdapat perwakilan tokoh agama di dalam Badan Sensor Film tersebut.

Aan juga meminta kepada para praktisi budaya dan pariwisata untuk mengokohkan jati diri bangsa Indonesia sebagai orang Timur yang kental dengan adat istiadat dan budaya yang santun. Ia juga meminta agar mereka punya upaya-upaya yang bisa memperkuat ketahanan sosial masyarakat Indonesia terhadap serbuan budaya asing. "Budaya suatu daerah boleh berkembang, tapi tidak berarti merubah moralitas budaya masyarakat tersebut" tegas Aan



18 Juni 2008

Persentase Kelulusan Unas SMA Turun

Fajar Online, Minggu, 15-06-08 | 01:34 | 204

JAKARTA -- Persentase kelulusan Ujian Nasional (Unas) SMA tahun 2008 diprediksi turun. Naiknya standar nilai dan bertambahnya jumlah mata pelajaran ditengarai menjadi sebab turunnya persentase kelulusan tahun ini.

Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Depdiknas Suyanto menyatakan, meski Depdiknas belum mendapatkan data riil berapa persentase penurunan tersebut, tahun ini angka kelulusan diperkirakan turun sebesar dua sampai tiga persen. "Lebih rendah dibanding tahun lalu," kata Suyanto saat dihubungi wartawan koran ini kemarin (16/5).

Pengumuman kelulusan Unas SMA secara serentak diumumkan kemarin. Hasil kelulusan tersebut bisa dilihat melalui sekolah, media cetak, atau situs sekolah masing-masing. Khusus untuk DKI Jakarta, hasil kelulusan Unas juga disampaikan melalui pos ke alamat siswa masing-masing.

Berdasarkan laporan Balitbang Depdiknas, di beberapa daerah misalnya DKI Jakarta, Jatim, Jateng dan Kaltim, tercatat penurunan persentase kelulusan Unas SMA. Meski banyak yang turun, Jabar ternyata mencatat kenaikan jumlah siswa yang lulus Unas SMA. �Secara nasional, prediksinya (turun) pada angka 88 sampai 90 persen,� kata Suyanto.
Dia menyatakan, angka tersebut merupakan penurunan dari tahun 2007 yang mencapai kelulusan 93 persen. Saat itu, mata pelajaran IPA mencapai tingkat kelulusan 95,1 persen, untuk IPS 90,7 persen, dan Bahasa mencapai 92,1 persen.

"Tahun ini kan ada penambahan mata pelajaran, bisa jadi turun karena itu," kata Suyanto. Selain itu, naiknya standar nilai menjadi 5,25 dengan tidak ada nilai di bawah 4,25, juga menjadi kesulitan tersendiri bagi siswa.

"Itu tidak apa-apa, misinya peningkatan (nilai) itu kan juga demi kualitas," lanjut Suyanto. Untuk nilai, siswa juga boleh memiliki nilai 4,00, asalkan nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00.
Untuk mata pelajaran, dari sebelumnya hanya tiga mata pelajaran, tahun ini ditambah menjadi enam mata pelajaran.

Tiga mata pelajaran pada mulanya itu yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris, pada UN 2008 ditambah dengan fisika, biologi dan kimia (IPA) serta geografi, sosiologi dan ekonomi untuk jurusan IPS. Penambahan mata pelajaran itu sempat menimbulkan protes dari sejumlah siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta Margani M Mustar menambahkan, tingkat kelulusan siswa SMA pada 2007 mencapai 96,19 persen, namun tahun ini hanya 92,25 persen. Sedangkan tingkat kelulusan siswa SMK tahun lalu 91,98 persen, naik menjadi 93,78 persen. "Jumlah pesertanya tidak jauh berbeda dibanding tahun lalu," kata Mustar.

Setiap tahunnya, sekitar 2,25 juta siswa tingkat SMA/SMK/MA mengikuti Unas. Adapun peserta Unas tahun ini sekitar 2,26 juta orang. Sesuai pernyataan Badan Standar Nasional Pendidikan, Peserta Unas yang tidak lulus bisa mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) paket C yang akan digelar tanggal 24-27 Juni mendatang.

Secara terpisah, presentase kelulusan Unas SMU yang turun disesalkan anggota Komisi Pendidikan ( X) DPR. "Sangat disayangkan. Ini ada apa ? Pemerintah harus bertanggungjawab. Sebab, masa depan anak dipertaruhkan," ujar Aan Rohanah Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS ketika dihubungi kemarin.

Menurut Aan, proses ujian nasional harus dievaluasi secara total sejak dimulai sampai finalisasi hasil. Apalagi, dalam pelaksanaannya ditemukan perilaku negatif pada siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, dan oknum departemen pendidikan nasional.

"Ini harus ditelusuri. Apa sebab turunnya hasil. Irjen Depdiknas tidak boleh segan-segan untuk memberi sanksi pelakunya dan harus diusut tuntas. Sehingga, kemurnian hasil UN terjaga dan mutu pendidikan bisa dibanggakan," tegas Anggota DPR asal Daerah pemilihan DKI Jakarta ini.
Pengamat pendidikan Dr Seto Mulyadi meminta orang tua siswa melakukan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang tidak lulus. "Jika hasilnya memprihatinkan, kejiwaan siswa bisa labil. Itu harus didampingi dan diberi perhatian lebih," katanya.

Psikolog yang juga ketua Komnas Anak itu prihatin setelah melihat pemberitaan di televisi yang menayangkan siswa yang histeris, pingsan bahkan kesurupan gara-gara tidak lulus ujian nasional.

Kak Seto mengatakan, anak didik yang tidak lulus harus segera dipulihkan dari kemungkinan stress berkepanjangan. "Orang tua dan guru, juga lingkungan harus ikut menyadarkan bahwa masa depan mereka masih ada. Harapan harus terus dimunculkan," katanya.(bay/rdl)

UAN SMA Turun Kenaikan Standar Jadi Alasan Persentase Kelulusan

Radar Timika, Senin, 16-06-2008 02:55 (GMT-4)


JAKARTA – Persentase kelulusan ujian nasional (UAN) SMA 2008 diprediksi turun dibanding tahun sebelumnya. Naiknya standar nilai dan bertambahnya jumlah mata pelajaran ditengarai menjadi penyebabnya.

Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Depdiknas Suyanto menyatakan, meski Depdiknas belum mendapat data riil tentang persentase penurunan tersebut, tahun ini angka kelulusan diperkirakan turun dua sampai tiga persen. "Lebih rendah dibanding tahun lalu," kata Suyanto kepada Jawa Pos, Sabtu (16/5).

Pengumuman kelulusan UAN SMA serentak diumumkan Sabtu lalu. Hasil kelulusan itu bisa dilihat melalui sekolah atau situs sekolah masing-masing. Khusus untuk DKI Jakarta, hasil kelulusan UAN juga disampaikan melalui pos ke alamat siswa masing-masing.

Berdasarkan laporan Balitbang Depdiknas, di beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Jatim, Jateng, dan Kaltim, persentase kelulusan turun. Sedangkan provinsi yang mencatat kenaikan tingkat kelulusan adalah Jabar. "Secara nasional, prediksinya (tingkat kelulusan, Red) pada angka 88 sampai 90 persen," kata Suyanto.

Dia menyatakan, angka tersebut merupakan penurunan dari 2007 yang mencapai 93 persen. Saat itu mata pelajaran IPA mencapai tingkat kelulusan 95,1 persen, IPS 90,7 persen, dan Bahasa 92,1 persen.

"Tahun ini kan ada penambahan mata pelajaran, bisa jadi turun karena itu," kata Suyanto. Selain itu, naiknya standar nilai dari 5,00 menjadi 5,25 dengan tidak ada nilai di bawah 4,25, juga menjadi kesulitan tersendiri bagi siswa. "Itu tidak apa-apa. Misinya peningkatan (nilai, Red) itu kan juga demi kualitas," lanjut Suyanto. Siswa juga boleh memiliki nilai 4,00, asalkan nilai mata pelajaran lain minimal 6,00.

Untuk mata pelajaran, dari sebelumnya hanya tiga mata pelajaran, tahun ini ditambah menjadi enam mata pelajaran. Tiga mata pelajaran yang diUANkan tahun-tahun sebelumnya adalah bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris. Tahun ini ditambah fisika, biologi, dan kimia (untuk jurusan IPA), serta geografi, sosiologi, dan ekonomi untuk jurusan IPS. Penambahan mata pelajaran itu sempat diprotes sejumlah siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta Margani M. Mustar menambahkan, tingkat kelulusan siswa SMA DKI Jakarta pada 2007 mencapai 96,19 persen, tapi tahun ini hanya 92,25 persen. Sedangkan tingkat kelulusan siswa SMK tahun lalu 91,98 persen, tahun ini naik menjadi 93,78 persen. "Jumlah peserta tidak jauh berbeda dibanding tahun lalu," kata Mustar.

Setiap tahun sekitar 2,25 juta siswa tingkat SMA/SMK/MA mengikuti UAN. Adapun peserta UAN tahun ini sekitar 2,26 juta orang. Sesuai pernyataan Badan Standar Nasional Pendidikan, peserta yang tidak lulus bisa mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) paket C yang digelar 24-27 Juni mendatang.

Penurunan persentase kelulusan UAN SMA itu disesalkan anggota Komisi X (Pendidikan) DPR. "Sangat disayangkan. Ini ada apa? Pemerintah harus bertanggung jawab. Sebab, masa depan anak dipertaruhkan," ujar Aan Rohanah, anggota Komisi X DPR dari Fraksi PKS.
Menurut Aan, proses ujian nasional harus dievaluasi total sejak dimulai sampai finalisasi hasil. Apalagi, dalam pelaksanaannya ditemukan perilaku negatif pada siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, dan oknum Departemen Pendidikan Nasional.

"Ini harus ditelusuri. Apa penyebab turunnya hasil? Irjen Depdiknas tidak boleh segan-segan memberi sanksi dan pelakunya harus diusut. Dengan demikian, kemurnian hasil UAN terjaga dan mutu pendidikan bisa dibanggakan," tegas anggota DPR asal daerah pemilihan DKI Jakarta itu.
Pengamat pendidikan Dr Seto Mulyadi meminta orang tua siswa melakukan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang tidak lulus. "Jika hasilnya memprihatinkan, kejiwaan siswa bisa labil. Itu harus didampingi dan diberi perhatian lebih," katanya.

Psikolog yang juga ketua Komnas Anak itu prihatin setelah melihat pemberitaan di televisi yang menayangkan siswa yang histeris, pingsan, bahkan kesurupan gara-gara tidak lulus UAN. Kak Seto mengatakan, anak didik yang tidak lulus harus segera dipulihkan dari kemungkinan stres berkepanjangan. "Orang tua, guru, dan lingkungan harus ikut menyadarkan bahwa masa depan mereka masih ada. Harapan harus terus dimunculkan," katanya. (bay/jpnn)

Tingkat Kelulusan Rendah, Daerah Diberi Bantuan

Padang Ekspres, Selasa, 17 Juni 2008

Jakarta, Padek-- Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada 2009 akan memberikan bantuan secara khusus kepada daerah-daerah yang tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN)-nya tergolong rendah. Alokasi dana yang disalurkan akan lebih banyak dibanding daerah yang tingkat kelulusan UN tergolong tinggi yakni di atas 95 persen.

Hanya saja, Mendiknas Bambang Sudibyo belum menyebut berapa dana yang akan disalurkan itu. Mendiknas mengaku belum menerima laporan dari Badan Nasional Standarisasi Pendidikan (BNSP) mengenai angka kelulusan masing-masing daerah.


Bambang Sudibyo mengungkapkan rencananya tersebut dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR kemarin yang khusus membahas anggaran Depdiknas tahun 2009, yang mencapai Rp 51,5 triliun. Jumlah ini meningkat dari tahun 2008 yang Rp 48,1 triliun. Dana sebesar itu akan difokuskan untuk tiga program yakni pertama, penuntasan wajib belajar (wajar) pendidikan dasar 9 tahun, khususnya bagi daerah yang kinerja pendidikannya masih rendah.

Kedua, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan menengah, tinggi, dan non formal. Ketiga, peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik. Khusus program kedua tersebut, sejumlah anggota komisi yang membidangi masalah pendidikan itu minta agar hasil UN dijadikan salah satu patokan. Cyprinus Aoer (F-PDIP) misalnya, meminta agar 10 daerah terburuk tingkat kelulusannya mendapat perhatian khusus dengan diberi bantuan dana lebih besar. Hal yang sama disampaikan anggota Komisi X DPR Aan Rohanah.
Menanggapi hal itu, Bambang Sudibyo menyatakan persetujuannya. “Ya, tentunya daerah yang tingkat kelulusan UN-nya rendah mendapat alokasi lebih banyak. Kami akan memperjuangkan agar anggaran ditambah,” ujar Bambang.

Dalam kesempatan tersebut Bambang menyatakan, pihaknya tidak pernah menjadikan angka kelulusan sebagai patokan berhasil tidaknya UN. Dikatakan, yang menjadi target adalah nilai rata-rata. Dia menyebutkan, dalam tiga tahun terakhir nilai rata-rata UN di atas 7. Disebutkan nilai rata-rata UN SMP tahun 2005 6,5 lantas pada 2006 7,15 dan pada 2007 mencapai 7,0. Untuk tahun ini data nilai rata-rata UN SMP belum masuk Depdiknas.

Sementara, untuk tingkat SMA, nilai rata-rata UN tahun 2005 adalah 6,5 naik menjadi 7,0 (2006), 7,16 (2007), dan 7,2 (2008). Sedang SMK adalah 6,0 (2005), 6,8 (2006), 6,9 (2007), dan 7,10 (2008). “Jadi, kriteria kelulusan berdasarkan nilai sudah meningkat, yang artinya ada peningkatan mutu,” kata Bambang.
Saat sejumlah anggota dewan menanyakan persentase angka kelulusan, Bambang menjawab belum tahu karena belum menerima laporan BNSP. “Kami tak berani melangkahi BNSP biar penyebutan angkanya tidak berbeda-beda,” kilahnya. Namun dia mengatakan,ada indikasi daerah-daerah yang fasilitas pendidikannya rendah pun terjadi peningkatan tingkat kelulusan.

Terkait dengan program wajar 9 tahun yang juga menjadi fokus Depdiknas pada 2009, Bambang menyebutkan mayoritas daerah kinerja pendidikannya rendah. Dia menyebut sejumlah daerah yang tingkat Angka Partisipasi Kasar (APK) wajar 9 tahun mencapai di atas 95 persen. Antara lain DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.

“Daerah-daerah itu tak lagi menjadi fokus pada 2009 karena sudah bisa mengelola secara mandiri,” ujar Bambang. Dia menargetkan, hingga akhir 2009 APK seluruh provinsi bisa mencapai 95 persen. Dalam kesempatan yang sama, dia membantah anggapan sejumlah anggota dewan yang menyebut Bantuan Keuangan Mahasiswa (BKM) kepada 400 ribu mahasiswa mirip dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Dikatakan Bambang, BKM itu guna mencegah terjadinya drop out (DO) bagi mahasiswa yang tak mampu akibat tingginya kenaikan harga-harga sebagai dampak kenaikan harga BBM. “Ini hanya semacam bantalan agar mereka punya ruang yang agak longgar untuk menyesuaikan dengan perubahan harga. Ini diberikan temporary agar mereka tak putus kuliah,” beber Bambang. (jpnn)

Kelulusan Unas SMA Turun, Kenaikan Standar Jadi Alasan

Padang Ekspres, Minggu, 15 Juni 2008

Jakarta, Padek —Persentase kelulusan Ujian Nasional (Unas) SMA tahun 2008 diprediksi turun. Naiknya standar nilai dan bertambahnya jumlah mata pelajaran ditengarai menjadi sebab turunnya persentase kelulusan tahun ini. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Depdiknas Suyanto menyatakan, meski Depdiknas belum mendapatkan data riil berapa persentase penurunan tersebut, tahun ini angka kelulusan diperkirakan turun sebesar dua sampai tiga persen. ”Lebih rendah dibanding tahun lalu,” kata Suyanto saat dihubungi wartawan koran ini kemarin (16/5).

Pengumuman kelulusan Unas SMA secara serentak diumumkan kemarin. Hasil kelulusan tersebut bisa dilihat melalui sekolah, media cetak, atau situs sekolah masing-masing. Khusus untuk DKI Jakarta, hasil kelulusan Unas juga disampaikan melalui pos ke alamat siswa masing-masing. Berdasarkan laporan Balitbang Depdiknas, di beberapa daerah misalnya DKI Jakarta, Jatim, Jateng dan Kaltim, tercatat penurunan persentase kelulusan Unas SMA. Meski banyak yang turun, Jabar ternyata mencatat kenaikan jumlah siswa yang lulus Unas SMA. ”Secara nasional, prediksinya (turun) pada angka 88 sampai 90 persen,” kata Suyanto.
Dia menyatakan, angka tersebut merupakan penurunan dari tahun 2007 yang mencapai kelulusan 93 persen. Saat itu, mata pelajaran IPA mencapai tingkat kelulusan 95,1 persen, untuk IPS 90,7 persen, dan Bahasa mencapai 92,1 persen.
”Tahun ini kan ada penambahan mata pelajaran, bisa jadi turun karena itu,” kata Suyanto. Selain itu, naiknya standar nilai menjadi 5,25 dengan tidak ada nilai di bawah 4,25, juga menjadi kesulitan tersendiri bagi siswa. ”Itu tidak apa-apa, misinya peningkatan (nilai) itu kan juga demi kualitas,” lanjut Suyanto. Untuk nilai, siswa juga boleh memiliki nilai 4,00, asalkan nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00. Untuk mata pelajaran, dari sebelumnya hanya tiga mata pelajaran, tahun ini ditambah menjadi enam mata pelajaran.
Tiga mata pelajaran pada mulanya itu yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris, pada UN 2008 ditambah dengan fisika, biologi dan kimia (IPA) serta geografi, sosiologi dan ekonomi untuk jurusan IPS. Penambahan mata pelajaran itu sempat menimbulkan protes dari sejumlah siswa. Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta Margani M Mustar menambahkan, tingkat kelulusan siswa SMA pada 2007 mencapai 96,19 persen, namun tahun ini hanya 92,25 persen. Sedangkan tingkat kelulusan siswa SMK tahun lalu 91,98 persen, naik menjadi 93,78 persen. ”Jumlah pesertanya tidak jauh berbeda dibanding tahun lalu,” kata Mustar.
Setiap tahunnya, sekitar 2,25 juta siswa tingkat SMA/SMK/MA mengikuti Unas. Adapun peserta Unas tahun ini sekitar 2,26 juta orang. Sesuai pernyataan Badan Standar Nasional Pendidikan, Peserta Unas yang tidak lulus bisa mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) paket C yang akan digelar tanggal 24-27 Juni mendatang. Secara terpisah, presentase kelulusan Unas SMU yang turun disesalkan anggota Komisi Pendidikan ( X) DPR. ”Sangat disayangkan. Ini ada apa ? Pemerintah harus bertanggungjawab. Sebab, masa depan anak dipertaruhkan,” ujar Aan Rohanah Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS ketika dihubungi kemarin.
Menurut Aan, proses ujian nasional harus dievaluasi secara total sejak dimulai sampai finalisasi hasil. Apalagi, dalam pelaksanaannya ditemukan perilaku negatif pada siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, dan oknum departemen pendidikan nasional. ”Ini harus ditelusuri. Apa sebab turunnya hasil. Irjen Depdiknas tidak boleh segan-segan untuk memberi sanksi pelakunya dan harus diusut tuntas. Sehingga, kemurnian hasil UN terjaga dan mutu pendidikan bisa dibanggakan,” tegas Anggota DPR asal Daerah pemilihan DKI Jakarta ini.
Pengamat pendidikan Dr Seto Mulyadi meminta orang tua siswa melakukan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang tidak lulus. ”Jika hasilnya memprihatinkan, kejiwaan siswa bisa labil. Itu harus didampingi dan diberi perhatian lebih,” katanya. Psikolog yang juga ketua Komnas Anak itu prihatin setelah melihat pemberitaan di televisi yang menayangkan siswa yang histeris, pingsan bahkan kesurupan gara-gara tidak lulus ujian nasional. (jpnn)



Mendiknas Bantah Ada Target Kelulusan


Kompas.Com, Senin, 16 Juni 2008 | 18:48 WIB


KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Walaupun belum diputuskan lulus, sejumlah siswa kelas III SMA di Tangerang, Banten, sudah melancholic aksi corat-coret di baju seragam mereka di Jalan Ciledug Raya, Tangerang, Jumat (11/5/2007). Aksi itu merupakan ungkapan kegembiraan mereka setelah selesai ujian akhir sekolah (UAS).


JAKARTA, SENIN - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo membantah tudingan yang menyebut pemerintah menetapkan target kelulusan siswa, baik jenjang SLTP maupun SMU.
Mendiknas saat ditemui disela-sela rapat kerja dengan Komisi X DPR RI -- membidangi masalah pendidikan dan olah raga -- Senin (16/6) menjelaskan, yang menjadi target pemerintah tak lain adalah soal pencapaian nilai rata-rata. Pernyataan Mendiknas juga menjawab dugaan jumlah kelulusan Ujian Nsional (UN) siswa tahun 2009, turun dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sampai sekarang ini, saya belum dapat laporan mengenai angka kelulusan. BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan-Red) juga belum melapor kepada saya. Dan kami hanya menargetkan nilai rata-rata nasional sehingga atas dasar inilah passing grade nilai kelulusan kemudian terus dinaikkan tiap tahunnya," kata Bambang.
Mendiknas menjelaskan, sejak UN diberlakukan pada tahun 2004, target rata-rata nilai nasional diakuinya selalu tercapai. Kabalitbang Depdiknas, Mansyur Ramly kemudian merincinya, target nilai rata-rata siswa dalam tiga tahun terakhir memenuhi target di atas 7,0. Rata-rata nilai nasional SMA tahun 2004/2005 adalah 6,5, tahun ajaran 2005/006 (7,0), 2006/2007 (7,16), 2007/2008 (7,2).
"Begitu juga dengan nilai rata-rata yang dicapai MP yakni 6,5 (2004/2005), 7,15 (2005/2006), dan 7,10 (2006/2007). Sementara untuk tahun ajaran 2007/2008 sampai sekarang belum keluar hasilnya," ujar Mansyur.
"UN itu, bagian dari pendidikan disiplin. Bahkan, setelah UN dilaksanakan pada tahun 2004 angka perkelahian antar sekolah menjadi menurun. Oleh karena itu, kita dorong supaya rata-rata nilainya dapat tercapai, DPR juga setuju," kata Bambang menambahkan.
Sementara pokok bahasan dalam rapat kerja Komisi X DPR dengan Mendiknas adalah menyangkut soal program prioritas Depdiknas 2009. Depdiknas memaparkan tiga fokus pembangunan pendidikan tahun 2009. Tiga fokus itu adalah pemantapan penuntasan program wajib belajar sembilan tahun yang berkualitas, peningkatan mutu serta relevansi pendidikan menengah, tinggi dan nonformal. Fokus yang terakhir, peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik.
Aan Rohanah, anggota Komisi X dari PKS dalam rapat mengungkapkan, daerah yang hasil UN-nya banyak yang tidak lulus perlu diberi tambahan anggaran. (Persda Network/yat)



Persentase Kelulusan UN SMA TuruN



RADAR TARAKAN ONLINE
Berita UTAMA Minggu, 15 Juni 2008

Kaltim Termasuk yang Turun

JAKARTA – Persentase kelulusan Ujian Nasional (UN) SMA tahun 2008 diprediksi turun. Naiknya standar nilai dan bertambahnya jumlah mata pelajaran ditengarai menjadi sebab turunnya persentase kelulusan tahun ini.
presentase
sambungan hal 1
Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Depdiknas Suyanto menyatakan, meski Depdiknas belum mendapatkan data riil berapa persentase penurunan tersebut, tahun ini angka kelulusan diperkirakan turun sebesar dua sampai tiga persen.
“Lebih rendah dibanding tahun lalu,” kata Suyanto saat dihubungi wartawan koran ini kemarin (16/5). Pengumuman kelulusan UN SMA secara serentak diumumkan kemarin. Hasil kelulusan tersebut bisa dilihat melalui sekolah, media cetak, atau situs sekolah masing-masing. Khusus untuk DKI Jakarta, hasil kelulusan UN juga disampaikan melalui pos ke alamat siswa masing-masing.
Berdasarkan laporan Balitbang Depdiknas, di beberapa daerah misalnya DKI Jakarta, Jatim, Jateng dan Kaltim, tercatat penurunan persentase kelulusan UN SMA. Meski banyak yang turun, Jabar ternyata mencatat kenaikan jumlah siswa yang lulus Unas SMA. “Secara nasional, prediksinya (turun) pada angka 88 sampai 90 persen,” kata Suyanto.
Dia menyatakan, angka tersebut merupakan penurunan dari tahun 2007 yang mencapai kelulusan 93 persen. Saat itu, mata pelajaran IPA mencapai tingkat kelulusan 95,1 persen, untuk IPS 90,7 persen, dan Bahasa mencapai 92,1 persen.
“Tahun ini kan ada penambahan mata pelajaran, bisa jadi turun karena itu,” kata Suyanto. Selain itu, naiknya standar nilai menjadi 5,25 dengan tidak ada nilai di bawah 4,25, juga menjadi kesulitan tersendiri bagi siswa. “Itu tidak apa-apa, misinya peningkatan (nilai) itu kan juga demi kualitas,” lanjut Suyanto. Untuk nilai, siswa juga boleh memiliki nilai 4,00, asalkan nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00.
Untuk mata pelajaran, dari sebelumnya hanya tiga mata pelajaran, tahun ini ditambah menjadi enam mata pelajaran. Tiga mata pelajaran pada mulanya itu yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris, pada UN 2008 ditambah dengan fisika, biologi dan kimia (IPA) serta geografi, sosiologi dan ekonomi untuk jurusan IPS. Penambahan mata pelajaran itu sempat menimbulkan protes dari sejumlah siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta Margani M Mustar menambahkan, tingkat kelulusan siswa SMA pada 2007 mencapai 96,19 persen, namun tahun ini hanya 92,25 persen. Sedangkan tingkat kelulusan siswa SMK tahun lalu 91,98 persen, naik menjadi 93,78 persen. “Jumlah pesertanya tidak jauh berbeda dibanding tahun lalu,” kata Mustar.
Setiap tahunnya, sekitar 2,25 juta siswa tingkat SMA/SMK/MA mengikuti UN. Adapun peserta UN tahun ini sekitar 2,26 juta orang. Sesuai pernyataan Badan Standar Nasional Pendidikan, peserta UN yang tidak lulus bisa mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) paket C yang akan digelar tanggal 24-27 Juni mendatang.
Secara terpisah, presentase kelulusan UN SMU yang turun disesalkan anggota Komisi X DPR RI. “Sangat disayangkan. Ini ada apa ? Pemerintah harus bertanggungjawab. Sebab, masa depan anak dipertaruhkan,” ujar Aan Rohanah Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS ketika dihubungi kemarin.
Menurut Aan, proses ujian nasional harus dievaluasi secara total sejak dimulai sampai finalisasi hasil. Apalagi, dalam pelaksanaannya ditemukan perilaku negatif pada siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, dan oknum departemen pendidikan nasional.
“Ini harus ditelusuri. Apa sebab turunnya hasil. Irjen Depdiknas tidak boleh segan-segan untuk memberi sanksi pelakunya dan harus diusut tuntas. Sehingga, kemurnian hasil UN terjaga dan mutu pendidikan bisa dibanggakan,” tegas Anggota DPR asal Daerah pemilihan DKI Jakarta ini.
Pengamat pendidikan Dr Seto Mulyadi meminta orang tua siswa melakukan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang tidak lulus. “Jika hasilnya memprihatinkan, kejiwaan siswa bisa labil. Itu harus didampingi dan diberi perhatian lebih,” katanya.
Psikolog yang juga ketua Komnas Anak itu prihatin setelah melihat pemberitaan di televisi yang menayangkan siswa yang histeris, pingsan bahkan kesurupan gara-gara tidak lulus ujian nasional. Kak Seto mengatakan, anak didik yang tidak lulus harus segera dipulihkan dari kemungkinan stress berkepanjangan. “Orang tua dan guru, juga lingkungan harus ikut menyadarkan bahwa masa depan mereka masih ada. Harapan harus terus dimunculkan,” katanya. (bay/rdl/jpnn)



Kenaikan Standar Lulus Jadi Alasan

[ Minggu, 15 Juni 2008 ]

Turun, Persentase Kelulusan Unas SMA

JAKARTA - Persentase kelulusan ujian nasional (unas) SMA 2008 diprediksi turun dibanding tahun sebelumnya. Naiknya standar nilai dan bertambahnya jumlah mata pelajaran ditengarai menjadi penyebabnya.

Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Depdiknas Suyanto menyatakan, meski Depdiknas belum mendapat data riil tentang persentase penurunan tersebut, tahun ini angka kelulusan diperkirakan turun dua sampai tiga persen. "Lebih rendah dibanding tahun lalu," kata Suyanto kepada koran ini kemarin (16/5).

Pengumuman kelulusan unas SMA serentak diumumkan kemarin. Hasil kelulusan itu bisa dilihat melalui sekolah, media cetak, atau situs sekolah masing-masing. Khusus untuk DKI Jakarta, hasil kelulusan unas juga disampaikan melalui pos ke alamat siswa masing-masing.

Berdasarkan laporan Balitbang Depdiknas, di beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Jatim, Jateng, dan Kaltim, persentase kelulusan turun. Sedangkan provinsi yang mencatat kenaikan tingkat kelulusan adalah Jabar. "Secara nasional, prediksinya (tingkat kelulusan, Red) pada angka 88 sampai 90 persen," kata Suyanto.

Dia menyatakan, angka tersebut merupakan penurunan dari 2007 yang mencapai 93 persen. Saat itu mata pelajaran IPA mencapai tingkat kelulusan 95,1 persen, IPS 90,7 persen, dan Bahasa 92,1 persen.

"Tahun ini kan ada penambahan mata pelajaran, bisa jadi turun karena itu," kata Suyanto. Selain itu, naiknya standar nilai dari 5,00 menjadi 5,25 dengan tidak ada nilai di bawah 4,25, juga menjadi kesulitan tersendiri bagi siswa. "Itu tidak apa-apa. Misinya peningkatan (nilai, Red) itu kan juga demi kualitas," lanjut Suyanto. Siswa juga boleh memiliki nilai 4,00, asalkan nilai mata pelajaran lain minimal 6,00.

Untuk mata pelajaran, dari sebelumnya hanya tiga mata pelajaran, tahun ini ditambah menjadi enam mata pelajaran. Tiga mata pelajaran yang diunaskan tahun-tahun sebelumnya adalah bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris. Tahun ini ditambah fisika, biologi, dan kimia (untuk jurusan IPA), serta geografi, sosiologi, dan ekonomi untuk jurusan IPS. Penambahan mata pelajaran itu sempat diprotes sejumlah siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta Margani M. Mustar menambahkan, tingkat kelulusan siswa SMA DKI Jakarta pada 2007 mencapai 96,19 persen, tapi tahun ini hanya 92,25 persen. Sedangkan tingkat kelulusan siswa SMK tahun lalu 91,98 persen, tahun ini naik menjadi 93,78 persen. "Jumlah peserta tidak jauh berbeda dibanding tahun lalu," kata Mustar.

Setiap tahun sekitar 2,25 juta siswa tingkat SMA/SMK/MA mengikuti unas. Adapun peserta unas tahun ini sekitar 2,26 juta orang. Sesuai pernyataan Badan Standar Nasional Pendidikan, peserta yang tidak lulus bisa mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) paket C yang digelar 24-27 Juni mendatang.

Penurunan persentase kelulusan unas SMA itu disesalkan anggota Komisi X (Pendidikan) DPR. "Sangat disayangkan. Ini ada apa? Pemerintah harus bertanggung jawab. Sebab, masa depan anak dipertaruhkan," ujar Aan Rohanah, anggota Komisi X DPR dari Fraksi PKS ketika dihubungi kemarin.

Menurut Aan, proses ujian nasional harus dievaluasi total sejak dimulai sampai finalisasi hasil. Apalagi, dalam pelaksanaannya ditemukan perilaku negatif pada siswa, guru, kepala sekolah, pengawas, dan oknum Departemen Pendidikan Nasional.

"Ini harus ditelusuri. Apa penyebab turunnya hasil? Irjen Depdiknas tidak boleh segan-segan memberi sanksi dan pelakunya harus diusut. Dengan demikian, kemurnian hasil unas terjaga dan mutu pendidikan bisa dibanggakan," tegas anggota DPR asal daerah pemilihan DKI Jakarta itu.

Pengamat pendidikan Dr Seto Mulyadi meminta orang tua siswa melakukan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang tidak lulus. "Jika hasilnya memprihatinkan, kejiwaan siswa bisa labil. Itu harus didampingi dan diberi perhatian lebih," katanya.

Psikolog yang juga ketua Komnas Anak itu prihatin setelah melihat pemberitaan di televisi yang menayangkan siswa yang histeris, pingsan, bahkan kesurupan gara-gara tidak lulus unas. Kak Seto mengatakan, anak didik yang tidak lulus harus segera dipulihkan dari kemungkinan stres berkepanjangan. "Orang tua, guru, dan lingkungan harus ikut menyadarkan bahwa masa depan mereka masih ada. Harapan harus terus dimunculkan," katanya. (bay/rdl/nw)